Penjelasan

Pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1956, Ir. Sukarno, Presiden Republik menyampaikan pidato di DPR, antara lain sebagai berikut: “Tetapi jika jiwa kita bukan jiwa yang benar-benar ingin membina satu Indonesia Baru,… jika jiwa belum jiwa yang mengalami Mental Revolution yaitu Revolusi Batin, maka janganlah mempunyai harapan apa-apa mengenai hari kemudian melainkan kebelakangan dan perbudakan.” Revolusi Batin amatlah berbeda dengan revolusi fisik. Revolusi fisik yang dialami Indonesia selama 1945-1949 dalam merebut kemerdekaan adalah revolusi berbasis pada kekuatan yang ada di luar diri manusia. Itulah kekuatan fisik, kekuatan perang gerilya termasuk kekuatan bambu runcing. Revolusi batin yang dibicarakan Bung Karno selepas revolusi fisik adalah sebuah perubahan besar berbasis kepada kekuatan yang ada dalam diri manusia Indonesia. Itulah revolusi yang menyangkut perubahan dalam berkemauan, berilmu (dan berprilaku) manusia Indonesia dalam kaitan dengan upaya memajukan kesejahteraan umum dalam berbagai dimensinya dalam membentuk Indonesia Baru.

Tetapi dari mana kekuatan untuk mendorong revolusi batin itu bersumber? Sumber ini sudah didefinisikan oleh para pendiri bangsa sebagaimana yang tertera dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 NKRI yaitu lima prinsip pokok yang oleh Bung Karno diberi nama Pancasila. Dari lima prinsip pokok ini Bung Hatta telah menyampaikan bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa adalah prinsip pertama dan utama yang menjadi sumber kekuatan mendorong revolusi batin itu. Kekuatan tanpa batas yang tersimpan dalam sosok Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Berilmu itulah yang perlu dikases dan dimanfaatkan untuk mendorong revolusi batin secara berkelanjutan.

Tetapi apa isi revolusi batin itu? Dalam hubungan ini dapat disampaikan tiga komponen yang saling berkaitan satu sama lain. Pertama adalah revolusi kesadaran, berkemauan dan berperasaan dari masyarakat Indonesia dari yang utamanya berbasis materi semata kepada yang berbasis kesatuan misi dan visi Indonesia sebagaimana yang terdapat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar NKRI Tahun 1945. Yang dimaksud dengan misi adalah Pancasila dan visi adalah terwujudnya negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Sebagai contoh, dalam kebjakan publik saat ini, pembangunan ekonomi ditujukan untuk mencapai kesejahteraan materi yang tinggi di dunia; sedangkan menurut prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa yang mesti dituju adalah kesejahteraan dunia dan akhirat, lahir dan batin. Jadi bangsa Indonesia harus ubah kesadarannya, perasaannya, kemauannya dalam hidup ini dari hanya yang berbasis materi dalam jangka pendek di dunia ini saja ke yang berbasis Tuhan Yang Maha Esa yang bersifat jangka panjang dunia-akhirat, materi dan non-materi.

Untuk apa adanya perubahan kesadaran, berkendak dan berperasaan demikian? Ini agar bisa dilaksanakan dengan konsisten prinsip kedua Pancasila yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab.

Kedua adalah “ Mental Revolution” yaitu revolusi berilmu dan menuntut dan aplikasi ilmu dari yang berbasis alam nyata semata atau filsafat empirisme ke yang berbasis Ketuhanan Yang Maha Esa atau epistemologi tauhid. Filsafat empirisme inilah yang sekarang digunakan dalam ilmu pengetahuan seperti ilmu ekonomi makro dan mikro. Namun bilamana yang dituju adalah kesejahteraan dunia-akhirat, maka ilmu yang berbasiskan empirisme saja tidaklah mencukupi. Bilamana dalam filsafat empirisme sumber kebenaran yang digunakan adalah realitas dan akal saja maka dalam epistemologi tauhid sumber kebenaran yang dimanfaatkan adalah tiga yaitu realitas, akal dan wahyu. Ketiga sumber kebenaran ini perlu dipadukan sehingga memberikan keputusan lebih tepat mengenai apa yang dimaksud dengan kebenaran sesuai tuntutan kesatuan misi dan visi bangsa.

Ketiga adalah revolusi dalam aturan pokok pengambilan keputusan masalah-masalah kemanusiaan. Dalam hal yang dituju adalah kesejahteraan di dunia ini saja maka aturan pokok pengambilan keputusan adalah pragmatisme. Menurut aturan ini apa yang bermanfaat sekarang dan disini bagi seorang indiviu atau kelompok individu, laksanakanlah; terlepas dari adanya atau tidak adanya Tuhan dan dunia akhirat. Dapatlah dilihat perspektif waktu aturan pokok demikian adalah jangka pendek. Pragmatisme sebagai aturan pokok pengambilan keputusan bagi pelaksanaan penyelesaian sesuatu masalah kemanusiaan perlu diubah menjadi prinsip keempat Pancasila yaitu Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Unsur-unsur perubahan besar dalam aturan pokok pengambilan keputusan dapatlah disampaikan bahwa dalam prinsip keempat Pancasila orientasi kepentingan adalah masyarakat secara luas (kerakyatan), bersifat jangka panjang, dunia-akhirat. Khusus yang menyangkut dunia- akhirat dapat dilihat bahwa keputusan yang diambil bukan hanya didasarkan kepada kebijaksanaan yang menyangkut realitas tetapi juga hikmah yang adalah ilmu yang terdapat dalam ayat-ayat kitab-kitab suci khususnya Al-Qur’an.

Modul-modul pelatihan revolusi batin berisikan ketiga unsur batin diatas.

MODUL NO. 1: KAPITALISME, PANCASILA, DAN VISI/MISI BANGSA

Tujuan umum modul: mengubah pola pikir berbasis filsafat empirime semata kepada filsafat berbasis Ketuhanan Yang Maha Esa dan kemanusiaan yang adil dan beradab

Tujuan spesifik modul:

  • Menjelaskan kenapa dan bagaimana pembangunan Indonesia terhambat dengan tidak terlaksananya revolusi batin dengan optimal.
  • Menjelaskan langkah-langkah kedepan

Isi modul: menjelaskan arti kapitalisme, dari mana sumbernya, pelaksanaannya di dunia Barat dan di Indonesia, kegagalan pelaksanaan Pancasila, dua rumusan tujuan operasional pembangunan bangsa, langkah-langkah kedepan.

Peserta pelatihan: unsur-unsur pimpinan lembaga-lembaga bisnis, politik, sosial-budaya/pendidikan, pemerintahan di pusat maupun daerah, dan lain-lain

Lama pelatihan: tiga jam (setengah hari); satu jam penyampaian, dua jam diskusi. Dimulai jam 9 pagi diakhiri jam 12.

Jumlah peserta per pelatihan: 25-30 orang 0rang

Cara pelatihan: calon peserta dikirimi bahan tertulis melalui internet untuk dipelajari. Dengan pembayaran sekaligus disampaikan alamat email peserta untuk dikirimi bahan. Alamat email disampaikan kepada sdra Ita atau sdra Likman. Disediakan makanan kecil dan makan siang.

Tempat: Ruangan tertentu di UAI

Waktu: 17 Oktober 2015

Biaya pelatihan: Rp. 1 juta per peserta, dibayar lebih dahulu melalui No. Acc.: 7014974436 Bank Syariah Mandiri

Narasumber: Dosen-Dosen kompeten dibawah bimbingan Sayuti Hasibuan, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta dan Ketua Program MM, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2000-2005.

Contact person”: Ita Fera, phone: 081285132695 email:itafera@uai.ac.id

Lukman Hakim: 081284133204 email:lukman.hakim@uai.ac.id

Ket: untuk telepon waktu jam kerja: 08.00 – 16.00WIB