Seminar Nasional Membangun Ekonomi Bangsa : Pelajaran Dari Sang Penyelamat, Sjafruddin Prawiranegara

Nama Syafruddin Prawiranegara, mungkin tidak seterkenal Soekarno, Muhamad Hatta, Jenderal Besar Sudirman, Soeharto atau Sri Sultan Hamangku Buwono IX.

Lima tokoh yang memiliki peran sangat penting dalam perjuangan dan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia itu, dikenal semua masyarakat negeri ini, termasuk generasi muda sekarang.

Dalam buku-buku sejarah perjuangan bangsa, orang bisa dengan mudah menemukan Soekarno, Muhamad Hatta, Jenderal Besar Sudirman, Seoharto dan Sri Sultan Hamangku Buwono IX,

Namun nama Syafruddin Prawiranegara justru sulit ditemukan, padahal peranananya cukup penting dalam masa perjuangan. Sederet jabatan penting pernah diembannya seperti Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), Gubernur Bank Indonesia, Menteri Keuangan, Menteri Kemakmuran dan Wakil Perdana Menteri.

Bahkan ketika negara dalam kondisi genting, pada 1948 karena para pemimpinnya, termasuk Soekarno dan Muhamad Hatta ditangkap dan diasingkan ke Bangka, Syafruddin yang asli putera Banten itu, diberi mandat oleh Presiden Soekarno untuk membentuk pemerintahan darurat.

Pada 19 Desember 1948, Syafruddin yang waktu itu menjabat Menteri Kemakmuran pun melaksanakan mandat itu dan membentuk PDRI, dan dia menjadi ketuanya. Syafruddin tidak menamakan dirinya presiden.

Dalam buku berjudul Presiden Prawiranegara yang ditulis Akmal Nasery Basral, Syafruddin menolak disebut sebagai presiden, walaupun waktu itu menjadi kepala pemerintahan dan “memiliki” sejumlah menteri sebagai pembentu dan penglima perang.

Untuk memperingati 1 abad Mr. Sjafruddin Prawiranegara, pada hari sabtu tanggal 11 juni 2011 bertempat di aula Arifin Paniggoro Universitas Al Azhar Indonesia, telah berlangsung Seminar nasional yang bertemakan “MEMBANGUN EKONOMI BANGSA : PELAJARAN DARI SANG PENYELAMAT, SJAFRUDDIN PRAWIRANEGARA”.

Seminar Nasional yang merupakan hasil kerjasama 4 lembaga besar ini, yaitu Panitia Nasional 1 Abad MR. Sjafruddin Prawiranegara, Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar (YPIA), Fakultas Ekonomi Universitas Al Azhar Indonesia (FE UAI), dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Azhar Indonesia (FISIP UAI) berhasil dilangsungkan dengan diisi oleh tokoh dan pakar yang kompeten di bidang politik, hukum dan ekonomi. Bapak Hatta Rajasa, Menko Perekonomian RI, didaulat sebagai keynote speaker menyampaikan ulasan apik tentang pelajaran yang dapat dipetik dari Mr. Sjafruddin Prawiranegara. Bertindak sebagai nara sumber Sesi I Bidang Politik disampaikan oleh Prof. Dr. Adnan Buyung Nasution dan Prof. Dr. Yahya A. Muhaimin (Dekan FISIP UAI). Sedangkan nara sumber Sesi II Bidang Ekonomi Islam disampaikan oleh Dr. M. Arie Mooduto, seorang pakar Ekonomi Syariah dan Prof. Sayuti HAsibuan, Ph.D. (Dekan FE UAI).

Pada sesi pertama, Bang Adnan Buyung dan Prof. Yahya Muhaimin menjelaskan peran Mr. Sjafruddin menyelamatkan bangsa ketika Soekarno dan Hatta ditahan oleh Belanda. Beliau mengambil inisiatif memproklamirkan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari beliau. Salah satunya adalah kejujuran dan sifat amanah Mr. Sjafruddin saat Soekarno kembali ke tanah air, beliau menyerahkan kembali mandat pemerintahan kepada Presiden Soekarno.

Bang Adnan Buyung juga menjelaskan bahwa telah terjadi kebohongan sejarah, khususnya tentang peristiwa PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia). Bang Buyung mengungkapkan bahwa Mr. Sjafruddin bukanlah seorang pemberontak atau separatis, tapi tindakan yang diambil Pak Sjafruddin adalah tindakan koreksi atas kebijakan Presiden Soekarno yang merubah pemerintahan dari sistem parlementer ke sistem demokrasi terpimpin. Sistem demokrasi terpimpin ini memungkinkan presiden menjadi seorang Diktator. Tentu saja banyak generasi muda saat ini yang tidak mengetahui kebenaran akan fakta tersebut. Anak-anak mudah sekarang hanya tahu bahwa PRRI adalah salah satu peristiwa pemberontakan yang pernah ada di bumi Indonesia ini.

Dalam sesi kedua yang membahas bidang ekonomi Islam, dua orang pakar bidang Ekonomi Islam berskala internasional yang menjadi nara sumber adalah Prof. Sayuti Hasibuan, Ph.D. pembicara dan penulis aktif pada seminar-seminar Nasional maupun Internasional, mantan deputi Bappenas, dan sekarang menjabat sebagai Dekan FE UAI. Pakar ekonomi syariah lainnya adalah Bapak Dr. H. M. Arie Mooduto pembicara dan penulis aktif di dalam dan luar negeri, dosen Pascasarjana pada Universitas Airlangga Surabaya, dan sebagai profesional pernah menjabat sebagai Direktur Bisnis di Bank Muamalat Indonesia.

Sesi yang berlangsung hingga petang diikuti dengan antusias oleh para hadirin yang mewakili berbagai unsur masyarakat, seperti tokoh masyarakat, wakil rakyat di DPD, wakil ormas, wakil organisasi politik, akademisi, entrepreneur, mahasiswa, dan unsur-unsur masyarakat lainnya, sehingga menjadikan sesi ini penuh warna dan semarak. Pemaparan para nara sumber pun amat lugas dan menarik sehingga tampak antusias hadirin hingga akhir acara.

Pemaparan sesi bidang Ekonomi Islam dimulai dengan pemaparan yang disampaikan oleh Prof. Sayuti Hasibuan, Ph.D. Secara lugas dan gamblang beliau menegaskan bahwa sistem ekonomi yang diterapkan di Indonesia tidak sejalan bahkan bertentangan dengan nilai-nilai bangsa Indonesia yaitu Pancasila, lebih jauh beliau menegaskan bahwa selama ketidakkonsistenan antara nilai dengan sistem tersebut tidak segera dikoreksi, maka bangsa Indonesia akan tetap sulit untuk bangkit dan melepaskan diri dari kondisi permasalahan multidimensi yang saat ini terus menerus dihadapi oleh bangsa Indonesia ini. Beliau menguraikan dasar dari sistem ekonomi yang saat ini digunakan terdiri atas 4 (empat) hal, yaitu: materialism, individualism, freedom of choice, dan empirical positivism dimana seluruh dasar tersebut bertentangan dengan nilai yang terumuskan dalam Pancasila. Disisi lain, ekonomi Islam yang bertumpu kepada 5 prinsip syariah yang dikenal sebagai maqashid syariah yaitu bahwa syariah Islam bertujuan menjaga dan meningkatkan: Kualitas keimanan, kualitas intelektual, kualitas keturunan, kualitas kesehatan, dan kualitas kesejahteraan amat sesuai dengan nilai-nilai bangsa yang tertuang dalam Pancasila tersebut. Sehingga Prof. Sayuti Hasibuan secara tegas menyatakan bahwa sistem ekonomi yang sekarang berlaku di Indonesia harus dikoreksi agar kesejahteraan bangsa Indonesia dapat diraih dan sistem ekonomi yang paling tepat untuk bangsa Indonesia adalah sistem ekonomi Islam. Bagaimana dengan pemikiran Pak Sjafruddin Prawiranegara di bidang ekonomi? Prof. Sayuti Hasibuan menegaskan bahwa ternyata pemikiran Mr. Sjafruddin Prawiranegara selain konsisten dengan nilai-nilai bangsa, juga selaras dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam.

Pemaparan selanjutnya disampaikan oleh Dr. H. M. Arie Mooduto dengan menggunakan sudut pandang yang berbeda dari Prof. Sayuti Hasibuan. Beliau menguraikan secara meluas menyentuh bidang-bidang selain ekonomi, yaitu bidang hukum dan politik. Bahkan menguraikan berat dan besarnya peran dan tanggungjawab pimpinan bangsa yang memimpin bangsa dengan menggunakan sistem yang tidak sejalan dengan sistem yang telah digariskan oleh agama, bahkan ditegaskan oleh beliau para pemimpin yang menyimpang akan mendapakan ganjaran yang amat pahit dan keras. Penyimpangan-penyimpangan yang bersifat multidimensi antara lain dipaparkan dengan contoh-contoh penyimpangan di bidang ekonomi, hukum, dan politik. Penyimpangan yang terjadi dikarenakan penerapan sistem yang bertentangan dengan prinsip Islam yang rahmatan lil alamin. Beliau tegaskan pula bahwa konsep dari sistem ekonomi mainstream (yang berlaku umum di dunia saat ini) secara tegas menyatakan bahwa spiritual dan moral tidaklah menjadi bagian dari sistem ekonomi mainstream tersebut, secara berkelakar beliau menambahkan bahwa pernyataan tersebut seharusnya diucapkan bukan oleh pakar ekonomi melainkan oleh iblis. Beliau secara tegas, walaupun dari sudut pandang yang sedikit berbeda dari paparan Prof. Sayuti Hasibuan namun memiliki kesamaan kesimpulan, menyatakan bahwa sistem ekonomi dan sistem-sistem lainnya yang diberlakukan di bumi Indonesia ini haruslah berbasis Islam.

Terkait dengan pemikiran Pak Sjafruddin Prawiranegara, beliau menegaskan bahwa pemikiran Pak Sjafruddin Prawiranegara sudah selaras dengan ekonomi Islam, namun khusus mengenai bunga bank memang kurang sesuai, namun dapat dimaklumi karena pada saat diutarakan oleh Pak Sjafruddin Prawiranegara, masalah bunga bank belumlah dibahas secara luas dan mendalam (hal itu disampaikan oleh beliau sebelum sesi kepada moderator).

Fakultas Ekonomi UAI memperoleh masukan yang amat berharga dengan adanya Seminar Nasional 1 Abad Pak Sjafruddin Prawiranegara tersebut, yaitu semakin mantap menjadi fakultas yang mengkhususkan diri kepada pengembangan dan pengajaran ilmu-ilmu di bidang ekonomi Islam, dimana ilmu Ekonomi Islam bukanlah merupakan sistem alternatif (pilihan) melainkan satu-satunya sistem ekonomi yang baik dan benar bagi kemaslahatan umat sedunia.

Semoga lewat seminar ini, masyarakat dapat menerapkan sistem ekonomi yang dipelajari lewat semiar ini, sehingga perekonomian bangsa dapat lebih maju dikedepannya nanti.